Hikikomori dan Introvert


Update terakhir:

Hasil beberapa tes keperibadian saya adalah INTP (Introversion, Intuition, Thinking, Perceiving). Namun ini bisa saja berubah-ubah, tergantung waktu dan lingkungan.

Orang introvert biasanya dikenal dengan sifat pemalu. Malu bicara sama orang asing, malu melakukan hal-hal yang konyol.

Tapi saat berbicara di depan publik, saya tidak malu. Mungkin karena dulu sering latihan saat menjadi asisten dosen.

Meskipun belum sempurna, kemampuan berbicara di depan umum ini perlu ditingkatkan.

Ngomong-ngomong tentang introvert…

…sebenarnya ada yang lebih parah lagi, yaitu Hikikomori.

Hikikomori (引きこもり, ひきこもり, atau 引き籠もり, arti harfiah: menarik diri, mengurung diri) adalah istilah Jepang untuk fenomena di kalangan remaja atau dewasa muda di Jepang yang menarik diri dan mengurung diri dari kehidupan sosial. Istilah hikikomori merujuk kepada fenomena sosial secara umum sekaligus sebutan untuk orang-orang yang termasuk ke dalam kelompok sosial ini. ^[https://id.wikipedia.org/wiki/Hikikomori]

Pada penelitian lebih mutakhir, enam kriteria spesifik diperlukan untuk “mendiagnosis” hikikomori:

  • Menghabiskan sebagian besar waktu dalam satu hari dan hampir setiap hari tanpa meninggalkan rumah
  • Secara jelas dan keras hati menghindar dari situasi sosial.
  • Simtom-simtom yang mengganggu rutinitas normal orang tersebut, fungsi pekerjaan (atau akademik), atau kegiatan sosial, atau hubungan antarpribadi.
  • Merasa penarikan dirinya itu sebagai sintonik ego.
  • Durasi sedikitnya enam bulan.
  • Tidak ada gangguan mental lain yang menyebabkan putus sosial dan penghindaran.

Hikikomori tidak sama dengan introvert, tapi seorang introvert bisa saja menjadi hikikomori.

Introvert adalah kecenderungan karakter yang menyukai ketenangan, berpikiran dalam, dan berbicara seperlunya bukan pendiam dan pemalu, sedangkan hikikomori adalah fenomena yang terjadi di masyarakat. Hikikomori bisa terjadi pada siapa saja jika bertemunya kondisi situasinya, sedangkan introvert memang sudah karakter. Introvert tidak seperti hikikomori yang menghindari kontak sosial, introvert juga bersosialisasi seperti orang pada umumnya sesuai kebutuhan mereka dan kenyamanan mereka. ^[http://doyoudolf.blogspot.com/2015/02/fenomena-hikikomori-di-indonesia.html]

Saya sering terjerumus menjadi hikikomori. Mengurung diri di dalam kamar, melakukan apapun yang disukai. Seperti main game, nonton, ngoding, ngeblog, menggambar, dan lain-lain.

Ini bisa sampai berbulan-bulan.

Yang paling parah dari pengalaman saya:

Saya tidak mau angkat telfon, tidak mau balas chat dan email. Tidak berbicara dengan orang-orang sekitar.

Seorang introvert yang menjadi hikikomori itu parah!

Dunianya hanya akan berada di dalam pikirannya dan aktivitasnya di dalam ruangan saja. Tidak mau keluar dan bersosialisasi dengan masyarakat.

Bahkan di sosial media juga begitu.

Kelihatannya saja dia online, tapi tidak mau balas komentar dan chat. Sebenarnya dia cuma ngecek feed timeline yang dibutuhkan saja.

Setelah itu, kabur.

Bagaimana Saya Keluar dari Hikikomori?

Ini tidak mudah!

Harus ada paksaan diri sendiri untuk keluar.

Biasanya saya keluar untuk mengamati langit dan menjadikannya sebagai hobi.

Hobi yang aneh.

Tapi ya, bisa jadi ini salah satu upaya yang bisa dilakukan.

Daripada berdiam di kamar, menikmati dunia mimpi dan fantasi yang tanpa batas itu.

Lebih baik pergi keluar dan mengamati langit.

Lagipula ini juga dapat melatih kemampuan fotografi saya yang masih amatiran.

…dan mentrigger imajinasi saya sewaktu mengamatinya.

Biasanya saya keluar rumah:

  1. Kalau ada sesuatu yang mendesak;
  2. Kalau ada kegiatan komunitas;
  3. Kalau hari itu tidak hujan;
  4. Kalau lagi pingin saja.

Tapi biasanya kalau terlalu capek berada di dunia luar, saya sering terjerumus menjadi hiki lagi.

Bisakah Hikikomori Menghasilkan Uang?

Jawabannya: Bisa, Sangat Bisa

Hikikomori bisa bekerja secara remote dari kamarnya. Saya pernah melakukannya.

…dan bisa menghasilkan uang jutaan rupiah dalam satu atau dua minggu.

Tapi, saat ditanya “Kamu tidak pergi kerja?” dan “Kamu kerja dimana?”

Biasanya saya sulit menjawabnya, karena di tempat saya… kerja remote itu belum banyak yang tahu.

“Diem-diem di kamar, tapi dapat uang. Jangan-jangan pelihara tuyul dan babi ngepet.”

Fuuf..

Biasanya akan saya jawab dengan:

“Saya kerja dari rumah, nanti hasil pekerjaannya dikirim lewat internet”

Tapi setelah itu, akan ditanya lagi:

“Oh begitu, gaji per bulannya berapa?”

Tidak pakai gaji, yang ada pakai upah. Hehe.

Tapi tergantung juga jenis pekerjaannya.

Kalau ngerjain project, ya akan dapat upah. Biasanya per jam atau per project.

Kalau ada kontrak dengan perusahaan tertentu, bisa saja dibayar dengan gaji per bulan.

Hikikomori di Kota vs Desa

Saya pernah tinggal di dua tempat ini, dan merasakan betul perbedaanya.

Di kota, menjadi Hikikomori akan sangat mudah. Karena masyarakat di sana cuek-cuek.

Sedangkan di desa, masyarakatnya cukup friendly.

Menjadi hikikomori di desa cukup sulit bagi saya. Karena akan dianggap aneh oleh masyarakat.

Kalau disuruh pilih, lebih baik tinggal di kota atau di desa?

Mungkin saya akan memilih di desa, karena saya suka alam dan masyarakatnya yang sederhana.

Akhir Kata…

Intinya melalui tulisan ini, saya ingin menjelaskan:

Mengapa saya tidak membalas chat, tidak mengangkat telfon, dan bersosialisasi dengan kalian.

Buat teman-teman yang membaca ini, saya harap kalian paham dengan situasi kondisi saya sebagai introvert.

Saya bukannya tidak mau berteman atau apa.

Mungkin saya sedang berada di dalam mode Hikikomori.

Kalau pingin tahu bagaimana buruknya kehidupan seorang hikikomori, coba nonton Anime Welcome to N.H.K.